Membangkit Batang Terendam Minangkacau

(34)

“Saya melalui Pak Bupati Marapi. Ada informasi, Persatuan Pemuda Nagari Marapi akan mendemo sidang BPAN,” bisik Pak Wali Nagari Marapi.

“Harap bubar. Biarkan BPAN melaksanakan tugasnya!” teriak Danton.

“Kawan-kawan. Situasi di luar semakin panas. Sebaiknya kita ambil keputusan melalui voting saja,” kata Pak Ketua BPAN Marapi setelah duduk kembali.

“Setuju!” jawab kelima anggota BPAN Marapi yang disekap tadi serentak.

“Yang setuju angkat tangan,” kata Pak Ketua BPAN Marapi.

Anggota BPAN Marapi mengangkat tangannya. Pak Ketua BPAN Marapi menghitungnya. Ternyata, dari sebelas anggota BPAN, sembilan orang mengangkat tangannya. Itu berarti, BPAN Marapi bersedia melepas Korong (tertinggal) Bodi Panyalai.

“Pak Sekretaris BPAN, tolong lengkapi dokumennya. Sidang kita skor selama sepuluh  menit,” kata Pak

Ketua BPAN Marapi sambil mengetuk meja tiga kali dengan tangan kanannya. Win Bahar, Sekretaris BPAN Marapi berdiri dan melangkah meja komputer yang terletak di samping kiri barisan meja sidang. Pak Ketua BPAN Marapi dan Pak Wali Nagari Marapi serentak berdiri dan melangkah menuju jendela. Tampak halaman Kantor BPAN Marapi sudah kosong dari kedua kubu yang kontra demo tadi.

“Mak Datuak Sekjen PPM Dunia, kemarilah,” kata Pak Wali Nagari Marapi.

Kakek Ajo Manih Koto berdiri, lalu melangkah ke jendela.

“Mana  kedua pengunjuk rasa tadi?” tanya beliau.

“Mereka sudah bubar,” jawab Pak Wali Nagari Marapi.

“Syukurlah,” kata kakek Ajo Manih Koto.

“Mari kita salami Pak Danton dan anggota,” kata Pak Wali Nagari Marapi.

“Silahkan. Saya di dalam saja, menunggu berkas yang sedang dibuat sekretaris BPAN,” kata Ketua BPAN Marapi.

“Baik,” kata Pak Wali Nagari Marapi.

Pak Wali Nagari dan kakek Ajo Manih Koto melangkah beriringan menuju halaman Kantor Wali Nagari Marapi. Setiba di teras, keduanya bertemu dengan Danton Anti Huru Hara yang sedang berdiri memandang pintu masuk ruang rapat BPAN Nagari Marapi.  Danton segera bersiap.

“Lapor Pak Wali. Kedua kubu sudah bubar. Laporan selesai!”

“Terima kasih. Segera kembali ke markas!” kata Pak Wali Nagari Marapi.

Pak Wali Nagari Marapi dan kakek Ajo Manih Koto bergantian menyalami Danton. Selanjutnya, menyalami anggota peleton yang masih berdiri tegap di halaman Kantor BPAN Nagari Marapi.

“Mereka diperintah terus bersiaga. Siapa tahu kedua kubu datang lagi,” kata Danton dari belakang.

“Terima kasih semua. Segera kembali ke markas,” kata Pak Wali Nagari Marapi.

“Maaf Pak Wali. Sidang BPAN belum selesai. Mungkinkah kedua kubu datang lagi?” kata Danton.

“Insya-Allah mereka tidak akan datang lagi,” kata Pak Wali Nagari Marapi.

“Bubar gerak. Kembali ke markas!”kata Danton.

“Siap. Bubar gerak. Kembali ke markas!” kata anggota peleton.

“Laksanakan!” kata Danton.

“Dilaksanakan!”

Lalu anggota Peleton Anti Huru Hara itu dengan langkah tegap menuju kendaraan Unit Anti Huru Hara Polres Kabupaten Marapi yang parkir di sebelah kiri Kantor BPAN Marapi. Dengan sigap mereka segera menaiknya. Danton melangkah dan dengan sigap pula naik ke kendaraan. Setelah Danton memberi hormat kepada Pak Wali Nagari Marapi dan kakek Ajo Manih Koto, sopir mobil dinas Peleton Anti Huru-Hara segera tancap gas meninggalkan halaman Kantor BPAN Marapi. Pak Wali Nagari Marapi dan kakek Ajo Manih Koto pun melangkah memasuki ruang sidang BPAN Marapi. Setiba di ruang sidang, tampak Sekretaris BPAN Marapi sedang meletakan sebuah map ke atas meja, berisi dokumen bersedia melepas Korong (tertinggal) Bodi Panyalai. Setelah Ketua BPAN Marapi menandatanganinya, Sekretaris BPAN Marapi memberi stempel, lalu dua berkas ia masukkan masing-masing ke dalam map yang terletak di bawah map berkas yang telah ditandatangani itu.

Ketua BPAN Marapi memohon Ketua Panitia Pembentukkan Nagari Minang ke depan. Ayah Julia Maya Panyalai melangkahlah ke depan meja pimpinan rapat. Dan dengan disaksikan para anggota, Ketua BPAN Marapi menyerahkan berkas dimaksud kepada ayah Julia Maya Panyalai.

“Terima kasih,” kata ayah Julia Maya Panyalai.

Betty Maya Jambak melalui Sekretaris BPAN Marapi menyerahkan uang sidang yang sudah disediakan kakek William Bronson Sikumbang dalam amplop. Setelah kakek ajo Manih Koto dan ayah Julia Maya Panyalai menyalami ketua dan anggota BPAN Marapi, mereka pun dengan kedua Kereta Kencana kembali ke rumah nenek Julia Maya Panyalai. Setiba di sana, Gadih Minang dan kawan-kawan bersepeda ke rumah nenek masing-masing. (Bersambung)

 

Previous Image
Next Image

info heading

info content

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*