Bukittinggi, Editor.- Iven Tour de Singkarak yang berlevel internasional sudah memasuki yang ke 9 tahun 2017 ini, namun masih terjadi pro dan kontra manfaat dari even tersebut. Di satu sisi pemerintah mengklaim sangat menguntungkan terutama dalam rangka promosi wisata dilain pihak masarakat merasa tidak ada manfaatnya.
Seperti yang dikeluhkan masyarakat Di Padang Luar Kecamatan Banuhampu Kabupaten Agam yang dilalui peserta pada etape ke VII yang starnya di Lembah Harau, Kabupaten Limapuluh Kota dan finish di Kota PadangPanjang. Banyak masyarakat yang merasa dirugikan, terutama pedagang di Pasar Padang Luar dan sopir angkot jurusan Koto Tuo, Sungai Buluah dan Padang Panjang.
“Bayangkan pada jam sibuk untuk mendapatkan sewa, kami tidak dapat menjalani trayek karena dari pukul 13.30 jalur Bukittinggi – Padang Panjang sudah di tutup, baru pukul 17.00 wib baru dibuka kembali. Praktis kami tidak dapat lagi menambang mengais rezeki karena terjadi kemacetan sampai pukul 21.00 wib, terutama di simpang Padangluar,” ujar ujang sopir angkit jurusan Koto Tuo seraya berharap untuk ke depannya perlu ditinjau kembali peleksanaan iven ini karena tidak ada manfaatnya bagi masyarakat.
Senada dengan itu tokoh masyarakat Padang Luar, Sudirman, juga mengungkapkan hal yang sama. Dia menilai tidak ada manfaatnya iven Tour de Singkarak ini. Berapa kerugian masyarakat dan pedagang Padang Luar karena jalan sudah di tutup dari pukul 14.00, sedang pembalap baru lewat dari Limapuluh Kota menuju Padang Panjang pukul 16.30. Berarti sekitar 3 jam jalan di tutup. Ke depan perlu ditinjau kembali dan di evaluasi pelaksanaannya, sehingga masarakat tidak terlalu di rugikan, ungkap Sudirman. ** Yus
Leave a Reply