(6)
“Bagaimana Tan?” tanya Ajo Gindo begitu Ajo Sutan berdiri di tempat
duduknya tadi.
“Kata si Jangguik, perampok dan pembunuhnya, Ajo Manih!”
“Ajo Manih?”
“Ya!”
“Ah, tak mungkin, Nagari Kito nagari teraman di NKRI.”
“Dia serius. Berani bersumpah pakai Kitab!”
Ajo Gindo menarik napas pelan-pelan.
“Kalau benar kata si Jangguik, ini aib paling besar di Nagari Kito,” kata Ajo Gindo setelah mengeluarkan napasnya dengan pelan-pelan pula.
“Kok gitu Jo Gin?” tanya gue.
“Selama ini, tidak pernah terjadi perampokkan sekaligus pembunuhan.”
“Tan, Gin?” kata seseorang tiba-tiba.
Kami serentak mehengong ke arah datangnya suara. Tampak seseorang berdiri berkacak pinggang di belakang Ajo Gindo. Ajo Gindo memutar badannya ke belakang. Setelah melihat siapa orangnya, Ajo Gindo tampak terkejut.
“O, Mak Manti Nagari Kito,” katanya lalu menyalami Manti Nagari Kito.
Manti Nagari Kito duduk bersila di samping kanan Ajo Gindo. Gue, Ajo Uwan dan Ajo Sutan bergantian menyalami Manti Nagari Kito.
“Kalian bergunjing atau berdiskusi?” kata Manti Nagari Kito memecah
kesunyian setelah kami beberapa jenak diam sambil saling berpandangan.
“Berdiskusi,” jawab Ajo Gindo.
“Apa yang kalian diskusikan?”
“Informasi si Jangguik kepada Sutan.”
“Apa informasinya?”
“Bundo Kanduang dan tiga Parewa Koa dirampok dan dibunuh orang.”
“Yang benar?”
“Benar Mak Manti. Si Jangguik berani bersumpah pakai Kitab!” sela Ajo
Sutan.
“Mana si Jangguik?”
“Itu dia,” kata Ajo Sutan dengan jemari tangan kanan menunjuk ke serambi Balai Basuo Nagari Kito.
Manti Nagari Kito bergegas melangkah menuju serambi Balai Basuo Nagari Kito. Kami melangkah berbarengan menuju serambi Balai Basuo Nagari Kito. Sesampai di sana, tampak muka Jangguik pucat pasi dengan air liur meleleh di bibirnya.
“Guik, benar Bundo Kanduang dan tiga Parewa Koa dibunuh orang?” tanya Manti Nagari Kito.
Jangguik mengangguk. Manti Nagari Kito berjalan dua langkah kemudian berdiri di samping kiri Jangguik.
“Guik, siapa pembunuhnya?” tanya Manti Nagari Kito sambil memegang
bahunya.
Jangguik diam saja.
“Mak Manti,” sela Ajo Sutan.
Manti Nagari Kito melirik Ajo Sutan yang berdiri di samping kanan gue.
“Apa Tan?” kata Manti Nagari Kito.
“Kata Jangguik tadi, pembunuhnya Ajo Manih.”
“Benar Guik?” tanya Manti Nagari Kito sambil menggoyang bahu kanan Jangguik.
Jangguik menganggukkan kepalanya. Manti Nagari Kito melepas tangannya dari bahu Jangguik. Jangguik terjerembab. Terdengar bunyi berdentam ketika kepala Jangguik menyentuh lantai. Jangguik seketika menggelepar.
“Guik, jangan sawan dulu. Katakan, di mana mayatnya?” kata Manti Nagari Kito.
“Mak Manti, kata si Jangguik, mayatnya di rumpun pisang di belakang Masjid Raya Nagari Kito,” tukas Ajo Sutan.
“Ayo kita ke sana!” kata Manti Nagari Kito.
“Jangguik bagaimana Manti?” tanya Ajo Uwan.
“Jo Wan dan Bang Sut, urus Jangguik!” kata Manti Nagari Kito lalu
melangkah ke halaman Balai Basuo Nagari Kito diiringi Ajo Gindo dan Ajo Sutan.
“Sawan Jangguik lima menit paling lama pulih lagi, tolong papah ke rumah orang tuanya,” kata Ajo Sidi, pengelola cafe tiba-tiba telah berdiri di depan pintu.
Gue dan Ajo Uwan pun memapah Jangguik menuju rumah kos kami.
(Bersambung)
Leave a Reply