(41)
Gue jelaskan, bahwa hal itu menurut kami berlima tidak sesuai dengan ajaran adat basandi syarak syarak basandi Kitabullah di mana wanita dimuliakan dan disuaka oleh lelaki! Kami menolak untuk pulang ke bako …”
“Kok ditolak?” tukas dan tanya Ajo Uwan lagi.
“Menurut pikiran kami, dengan menerima uang hilang martabat lelaki jatuh tapai! Sedang martabat perempuan naik daun!”
“Kok jatuh tapai dan naik daun?”
“Kejantanan mempelai lelaki jatuh dan terinjak-injak karena sudah dibeli melalui pemberian uang hilang. Sebaliknya, kebetinaan mempelai wanita meroket karena telah membeli dan menguasai kejantanan mempelai lelaki! Berbeda dengan kejantanan lelaki dan kebetinaan wanita Minang di zaman saisuak …”
“Jelaskan kepada kami, bagaimana kejantanan lelaki dan kebetinaan wanita Minang zaman saisuak?” sela dan tanya Ajo Uwan seketika.
“Dulu sumando bagi mamak rumah adalah “tamu malam” bagi kakak, adik dan kemenakan perempuannya. Tugasnya hanya untuk melanjutkan keturunan. Sedang biaya untuk membesarkan dan mendidik anak-anaknya tanggung jawab mamak anak-anaknya dengan mengandalkan hasil olahan pusaka tinggi berupa sawah, kolam ikan dan ladang kelapa, cengkeh, kulit manis atau gambir,” kata gue.
“Ya. Dahulu modal anak bujang Minang kalau tidak ranji, unggeh!”
“Ranji dan unggeh?”
“Ya!”
“Apa itu ranji dan unggeh?”
“Ranji adalah garis keturunan, apakah dia anak penghulu, anak tuangku, atau anak parewa yang menguasai limu lahir dan batin termasuk silat alias urang bagak nagari!”
“O itu. Kalau unggeh?”
“Unggeh?”
“Ya. Apa sejenis burung?”
“Bisa ya bisa pula tidak. Itu …”
“Jo Wan !!!”
Terdengar seseorang berteriak. Gue melihat ke arah datangnya suara itu. Rupanya Wali Nagari Kito.
“Ada apa Wali?” tanya Ajo Uwan.
“Jo Wan terang-jelaskan saja empat mata kepada Bang Sut, apa itu unggeh!” kata Wali Nagari Kito.
“Baik. Bang Sut …!”
“Ya.”
“Sekarang bagaimana nikah-kawin urang Minang?”
“Pertanyaan Ajo Uwan itu salah satu dari sejumlah pertanyaan penelitian kami.”
“Bagus! Lanjutkan Bang Sut!”
“Untuk menjawabnya kami cari data dan informasi melalui pengamatan, wawancara dan pengisian kuisioner, kemudian kami analisis. Hasil analisis menyatakan sejak uang hilang telah fenomenal sebagai adat nan teradat, urang lingkup budaya daerah Piaman Laweh terkesan tidak ingin lagi jadi urang Minang!”
“Kok gitu?” sela Ajo Uwan.
“Karena adat basandi syarak syarak basandi Kitabullah tidak lagi jadi orientasi hidup urang lingkup budaya daerah Piaman Laweh!”
“Apa orientasi hidup urang lingkup budaya daerah Piaman Laweh sekarang?” tukas Ajo
Uwan sekaligus bertanya.
“Materialisme, individualisme, kosumtifisme, dan hedonisme!”
“Apa itu? Tolong telaskan!”
“Menghargai barang atau materi daripada kemanusiaan yang adil dan beradab, memperdulikan diri sendiri tanpa mempertimbangkan keberadaan orang lain, berbelanja barang
yang sebenarnya tidak diperlukan dan suka bersenang-senang tak keruan!”
“Itu sebabnya seseorang meremehkan orang lain karena secara materi ia lebih unggul walaupun orang lain itu sanak keluarga sendiri?”
“Ya!”
“Itulah ciri-ciri orang ongas!”
“Ongas?”
“Ya!”
“Apa itu ongas?”
“Adik bungsu dari sifat arogan. Sombong, angkuh dan tidak tahu diri!”
“Stop!” teriak seseorang. (Bersambung)
Leave a Reply