Padang, Editor.- Sekarang peluang harga komoditi minyak nilam dan minyak atsiri dalam dan luar negeri sangat menggiurkan.
Hal itu diungkapkan Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan/Perindag Propinsi Sumbar Asben Hendri melalui Kepala UPTD Pelayanan dan Pengembangan Minyak Atsiri Perindag Sumbar Ir Hj Gusriati di ruang kerja Kadis Perindag Sumbar, Senin (7/10).

Menurut Gusriati, harga minyak atsiri dalam negeri yang dipasok oleh buyer/pembeli mencapai 300 ribu perkilogram. Begitu juga harga minyak nilam dalam negeri cukup lumayan mencapai 500 ribu lebih perkilogram.
Perlu diketahui, sumber minyak atsiri tidak saja melalui komoditi serai wangi tetapi juga melalui minyak nilam, minyak cengkeh, kasivera, jerukpurut dan bunga-bungaan serta tumbuhan yang menghasilkan wangi-wangian seperti komoditi kayu gaharu.
“UPTD Pelayanan dan Pengembangan Minyak Atsiri, baru satu-satunya UPTD yang satu ini terbentuk se-Indonesia., karena dari sejumlah Perindag di propinsi lain belum ada UPTD yang mengelola Pelayanan dan Pengembangan Minyak Atsiri, terang Gusriati yang mengaku baru setahun yang lalu unit ini terbentuk,” kata Gusriati.
Dijelaskan, sebenarnya potensi sumber tumbuhan yang berwangi-wangian guna kebutuhan bahan parpum lebih banyak bersumber dari komoditi nilam dan serai wangi. Tetapi potensi harga minyak nilam cukup bagus, malah hasil produksi minyak nilam menurun drastis mencapai 50 persen di Sumbar.
Penurunan itu disebabkan komoditi tumbuhan nilam terserang hama budrochk yang mematikan tumbuhan nilam atau jadi layu sebelum berkembang biak. Sehingga di Sumbar yang sedang *booming” dibudidayakan masyarakat adalah serai wangi yang menghasilkan minyak atsiri. Disamping pemasoknya banyak dan menanam tumbuhan serai wangi tergolong cepat berproduksi sejak tanam perdana 9 bulan kemudian sudah dipanen. Serai wangi usai panen perdana pada usia 6 bulan kemudian sudah dipanen, dan hingga 3 bulan kemudian serai wangi bisa rutin panen satu kali 3 bulan. Sementara masa panen komoditi tumbuhan nilam paling cepat bisa panen sekali 9 bulan.
Makanya masyarakat yang telah terbiasa tanam budidaya nilam sekarang lebih cenderung pindah tanam komoditi serai wangi diperkirakan mencapai ribuan hektar serai wangi ditanan masyarakat di Sumbar.
Saat ini daerah yang lebih menonjol tanam serai wangi adalah Sikakap Mentawai sudah ratusan hektar. Begitu juga di Solok, Pasaman dan Pasaman Barat.
“Program UPTD Pelayanan dan Pengembangan Minyak Atsiri Dinas Perindag Sumbar adalah melangkah pada konsep pengendalian pasar serta info tercepat yang dibutuhkan masyarakat pelaku usaha kebun komoti atsiri,” jelas Gusriati ketika mendampingi Kadis Perindag Sumbar Asben Hendri, diruang kerjanya saat wawancara khusus dengan wartawan dari media ini. ** Obral Chaniago
Leave a Reply