Padang Panjang, Editor.- Warga RT III, RT VII dan RT VIII keluarahan Pasar Usang kota Padang Panjang seakan tak kenal lelah mengumbar rasa kebersamaan. Minggu pekan lalu misalnya, ibu ibu yang tergabung dalam majlis taqlim dan arisan RT raun raun ke sejumlah daerah di Sumbar.

Dari kota Serambi Mekah bus Pemko yang membawa rombongan melaju menjajal jalan tepian Singkarak menuju di Bukit Cinangkiek di Sumani Kabupaten Solok. “ haha… oto nan mandaki, angok nan sasak,” ujar penumpang saat bus mulai mendaki memasuki kawasan wisata Bukik Cinangkiek yang dilaunching lebaran tahun lalu. Ada yang menekan perut , was-was, jika bus tak kuat mendaki maka mundur dan tungganglangganglah penumpang ke areal pertanian penduduk.
Begitu sampai di puncak ada yang bilang “ wawww, cantik! !” Tanpa aba aba umumnya mereka menguarkan kamera HP dan kamera digital. Hmmmm,jepret sana jepret sini . Terlebih Yuli Once dengan gagah berani menaiki tangga miniature kapal. Inilah spot foto tertinggi disini yang memaparkan pemandangan luas ke danau Singkarak. Apalagi yang dilakukan Yuli, staf Dinas Kominfo Padang Panjang kalau bukan foto foto dan live streaming facebook, karena itu memang hobinya.

Hanya sekitar 45 menit,perjalanan berlanjut menuju air panas di Solok. Seperti permainan sepakbola, dibabak kedua rehat ini juga diberi waktu 45 menit bagi yang mandi ataupun yang hanya sekedar melihat lihat saja. Ada yang minta injuri time alias perpanjangan waktu, tapi tak diberi sang sopir, Caplin, sebab, perjalanan ke Pantai Airmanis masih jauh.
Bagi sebagain warga Jembes dan sekitarnya, Puja, El, Hak, Ida, Cici, Bet, Roza, Dian,Upik, Yanti dan lainnya air panas Solok bukan hal baru baginya. Sebab, secara berkala mereka mandi kesini karena diyakini dapat mengurangi pega-lpegal dan mengurangi penyakit asam urat. Itu sebabnya mereka seakan rugi kalau tidak ikut mandi. Bahkan, Yanti menikmati paket special dengan berurut badan ditepi kolam air panas. Katanya tadi ada ibu ibu yang menawari jasa berurut/pijit.

Saat mentari bertengger diubun ubun, 32 anggota rombongan mayoritas ibu-ibu berumur diatas 30-an ini tiba di pantai Air Manis. Rasa nak rengkah kepala ini menahan panas,di pantai lagi. Ada yang bertanya, kenapa siang terik ini dibawa kemari? Tapi itulah hebatnya anggota arisan RT VII dan RT VIII Pasar Usang, RT dimana Hamka pernah tinggal dan belajar agama disini, nurut saja ketika rute perjalanan dirubah dari yang awalnya dari Solok ke Sawah Lunto- Batusangakar menjadi Solok-Padang- Padang Panjang.
Dan, makan adalah kenikmatan puncak perjalanan Minggu itu. Sewa pondok, bentangkan tikar, makan barapaklah ramai- ramai. Aktifis RT, Mun yang sering juara lomba memasak hingga tingkat provinsi menyuguhkan serantang besar sambalado mudo, telur rebus, ikan asin plus aneka lalapan menambah nikmat santap siang. Aneka sambal dari yang lainnya dihidangkan ketengah. Terasa benar rasa kekeluargaan yang tak ternilai dengan uang.

Tak ada game special untuk para anggota. Main pasir, berkejar kejaran dengan ombak, naik motor …..lebih dipilih anak -anak dan remaja. Sesekali mereka naik ke pondok mencicipi kerupuk kuah, cake tape yang diosong warga RT III Gang Sampik..
Hari beranjak sore, terikpun menurun. Orang orang yang tadinya lebih memilih duduk dipondok seraya menyerumput air kelapa muda mulai turun kebawah. Segerombolan pemuda kekar berkulit hitam legam tampak menyiapkan papan ski, tali penarik, pelampung/ tubing untuk berselancar di laut.

Satu satu rombongan Jembes naik ke bus, yang lainnya masih ada yang membasuh badan, ganti pakaian, atau sekedar beli cemilan dan minuman. Tak lama kemudian bergegas menaiki tangga bus.Maklum mesin oto telah berbunyi pertanda goodbye Batu Malin Kundang, selamat tinggal Pantai Airmanis .
Dasar perempuan, taklah lengkap perjalanan tanpa shoping. Hmm, alasannya klise sekali, “pembuka pintu” Perjalanpun berakhir usai shalat magrib di kawasan Ulak Karang Padang. Selanjutnya, sayonara di raun raun berikutnya. ** Yetti Harni/Berliano Jeyhan
Leave a Reply