Tuapejat, Editor.- Kasus penganiayaan berat penghuni Hotel Kristine kamar 204 Desa Tuapejat Kecamatan Sipora Utara, dini hari Rabu (17/7) menghebohkan masyarakat Tuapejat. Namun korban yang bernama Temazalulo Giawa tidak melaporkannya pada pihak kepolisian.
Saat masih sadar dan ditanya apa yang hilang dan siapa yang melakukan penganiayaan, dia sempat menghitung uangnya yang berjumlah Rp 6 juta, Temazalulo Giawa berusaha menyeembunyikan siapa pelakunya.
Informasi dari sumber yang dapat di percaya namun tidak mau di sebut namanya, ada motif ada perselingkuhan dibalik kejadian ini. Temazalulo Giawa malam itu sempat sekcok dengan seseorang yang tak bisa diselesaikan hingga timbul penganiayaan berat dan Temazalulo Giawa mengeluarkan darah yang di kepala, sebelum bersitirahat di kamar 204, lantai 2 Hotel Kristine.
Menurut Temazalulo Giawa, dia tidak mau melaporkan penganiayaan tersebut karena takut akan menimbulkan aib lebih besar sebab bermotif perselingkuhan dan biarlah resikonya dia tanggung sendiri.
Temazalulu Giawa berasal Saibi Kecamatan Seberut Tengah. Selaian sebagai Bendahara di sebuah SMP dia juga seorang guru agama kristen dan pastor kondang di Kecamatan Seberut Tengah. Kini kondisinya di Rumah Sakit M.Djamil dalam pemulihan. Diharapkan korban dan keluarga dengan jujur bisa membuat laporan resmi di polres Kepualauan Mentawai.
Kapolres Kepulau Mentawai AKBP Hendri Yahya, SE membenarkan adanya penghuni kamar 204 lantai 2 Hotel Kristine yang mengatakan, masih masih mendalami kasus ini walau kesulitan karena korban menutupi siapa pelaku peniayaan ini. Sementara itu aktivis LSM Heripharmalis yang juga wartawan, serta tokoh masyarakat Nias di Mentawai, Delau mengatakan, masyarakat Nias tidak terima atas penganiayaan berat di. Diharapkan keluarga korban membuat laporan polisi dan korban harus jujur apa yang terlah dia lakukan, sehingga terjadi penganiayaan berat yang menghebohkan masyarkat Tuapejat. ** Afridon
Leave a Reply