Selayo, Editor.- Ditengah-tengah pandemi Covid-19 yang terus melanda negeri ini dan ekonomi kian melemah, anak muda bernama Hidayat Di Kincie (33 th) ini masih tetap eksis melahirkan karya-karya terbaiknya yang mulai menjadi perhatian publik.
Puluhan karya-karya lukis anak muda kelahiran Solok, Selayo, Sumatera Barat, 02 November 1988 tersebut, bukan hanya menarik untuk disimak dan ditelusuri, tetapi juga sarat makna yang memuat pesan-pesan kultural tanpa kehilangan nilai estetikanya.
Saat ditemui di Selayo Solok, Jum’at 4/03/22, Dayat demikian panggillan akrabnya, mengaku sejak beberapa tahun setelah menyelesaikan pendidikan di Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang jurusan seni murni ia berkonsentrasi menggarap karya-karya bermuatan dengan mementingkan ekspresi individu seniman ketimbang peniruan alam secara realistik.
Tiga diantara puluhan karya Dayat yang dibuatnya dalam waktu berbeda berbeda masih terlihat kecendrungan mendistorsi kenyataan dengan efek-efek emosional sebagai wujud refresentasi kehidupan sosial di tengah-tengah masyarakat yang menjadi muatan karya-karyanya.
Garis dan warna yang diwujudkan secara ekspresif simbolik dari rangkaian obyek demi obyek cukup menarik untuk ditelusuri lebih jauh dan lebih dalam. Lihat karya Dayat berjudul Saksi#1, akrilik, 150×150 cm-2017, Kursi Seniman, 135×100 cm, akrilik, 2021 dan Tumbuh Di Hulu, akrilik ,40×60 cm, 2022.
Terlihat ketiganya ada upaya mendistorsi kenyataan melalui efek-efek emosional pada obyek-obyek yang tampil. Lihat karya Tumbuh di Hulu, dayat memiliki cara pandang tersendiri dari apa yang pernah dilihatnya di alam, lalu diekspresikan pada karyanya yang bertutur tentang Generasi muda di Minangkabau Yang Mulai Tumbuh dan Mekar seiring ruang dan waktu dan dengan setia tetap memperlihatkan kekuatan budayanya pada publik.
Lukisan berjudul Saksi#1, akrilik, 150×150 cm, terlihat lebih menonjolkan ungkapan dari dalam jiwa tanpa menghiraukan berbagai teknik penciptaan formal untuk mendapatkan ekspresi yang lebih murni dan tanpa tekanan dari kepentingan ekstrinsik Seni. Puluhan obyek beragam wajah-wajah yang dibuat ekpresif merupakan sensitibilitas pelukis terhadap isu-isu kekinian yang kemudian direfresentasikan kepermukaaan.
Begitu juga karya berjudul “Kursi Seniman” sebuah ungkapan dari fenomena keseharian yang dihadapinya sebagai pelukis, terlihat di atas kursi ada obyek kucing, dan gitar tua yang tersandar kemudian sajadah sholat sebagai obyek sederhana, namun menghasilkan karya yang menarik dan luar biasa.
Menurut dayat. seni merupakan sesuatu yang keluar dari diri seniman, bukan dari peniruan alam dunia. Seniman memiliki ingatan dan cara pandang tersendiri dari apa yang pernah dilihat di alam, lalu diekspresikan pada karya dengan ekspresi yang lebih murni dan tanpa tekanan dari kepentingan ekstrinsik seni yang menonjolkan ungkapan dari dalam jiwa melalui simbolisme beragam obyek, ujar pelukis yang telah puluhan berpameran di Sumatera Barat maupun di luar daerah, ujarnya memberi ilustrasi karya-karyanya. ** Muharyadi
Leave a Reply