(14)
Gue pun melangkah dan berdiri di samping kanan mereka. Slah seorang dari mereka, Ajo Uwan, menyeruak ke depan.
“Kapalo Mudo!” kata Ajo Uwan dengan kerasnya.
“Ya. Siapa?”
“Saya. Ajo Uwan!”
“Ada apa Jo Wan?”
“Apakah pengumuman yang akan Kapalo Mudo sampaikan untuk warga Nagari Kito?”
“Ya!”
“Juga untuk urang sumando Nagari Kito?”
“Ya!”
“Cepat sampaikan, kami mau main domino!”
“Baik!”
Kapalo Mudo Siyam melekatkan Toa ke mulutnya.
“Tunggu!” sela seseorang seketika yang tiba-tiba saja sudah berdiri di jenjang terakhir sebelum memasuki serambi Balai Basuo Nagari Kito.
Kapalo Mudo Siyam melirik ke arah datangnya suara. Gue dan orang-orang yang berdiri berkerumun di depan pintu masuk cafe Balai Basuo itu pun juga melirik ke arahnya. Rupanya Labai Nagari Kito.
“O Mak Labai.”
“Ya!”
“Ada apa Mak Labai?” tanya Kapalo Mudo Siyam.
“Apakah pemberitahuan yang akan Kapalo Mudo sampaikan berhubungan dengan urang banyak?”
“Ya!”
“Bukan Kapalo Mudo yang berwenang menyampaikannya!”
Kapalo Mudo Siyam berjalan beberapa langkah lalu berdiri di samping kanan Labai Nagari Kito.
“Kalau bukan saya, siapa?” katanya dengan kedua tangan berkacak di pinggang.
Labai Nagari Kito berjalan beberapa langkah menuju jenjang, lalu berbalik memandang Kapalo Mudo Siyam.
“Wali Nagari Kito!”
“Kalau bukan Wali Nagari Kito, siapa?”
“Manti Nagari Kito!”
“Mak Manti Nagari menyampaikannya di surau-surau!”
“Kenapa Kapalo Mudo Siyam menyampaikannya di Balai Basuo Nagari Kito ini?”
“Manti Nagari Kito memerintah saya menyampaikan di cafe Balai Basuo Nagari Kito ini!”
“Kapalo mudo perangkat mamak adat. Yang berhak memerintah Kapalo Mudo adalah pucuk mamak adat yang bergelar datuak!”
“Mak Manti Nagari Kito secara pribadi meminta tolong disetujui Wali Nagari Kito.
Kalau tidak percaya, HP Wali Nagari Kito.”
“Baik.”
Setelah menghidupkan pengeras suaranya, Labai Nagari Kito mengontak Wali Nagari Kito. Tersambung.
“Assalamualaikum Wali!”
“Walaikumsalam! Ada apa Mak Labai?”
“Benar Wali setuju Kapalo Mudo Siyam menyampaikan pengumuman di Balai Basuo Nagari Kito?”
“Ya. Kenapa?”
“Setahu kami, yang berhak memerintah Kapalo Mudo Siyam kalau bukan Wali adalah datuak datuak penghulu kaumnya.”
“Manti Nagari minta persetujuan saya, Kapalo Mudo membantunya menyampaikan pengumunan.”
“Terima kasih Wali!”
“Sama-sama!”
“Kapalo Mudo Siyam, sampaikanlah!” kata Labai Nagari Kito lalu mematikan HP-nya.
“Angku Palo mengundang untuk hadir besok malam di ruang sidang Balai Adat dan Syarak Nagari Kito!”
“Apa agendanya?” sela Labai Nagari Kito seketika.
“Ajo Manih dimejahijaukan!”
“Kok jadi juga Ajo Manih dimejahijaukan?” tukas Ajo Uwan.
“Berita acaranya memenuhi syarat. Ada saksi dan barang bukti yang menyimpulkan bahwa Ajo Manih pembunuh dan perampok Bundo Kanduang dan tiga Parewa Koa! Hadir saja besok malam di Balai Adat dan Syarak Nagari Kito. Ajo Manih salah atau tidak, meja hijau yang membuktikan!”
“Baik. Kami akan hadir nanti malam,” kata Labai Nagari Kito.
“Terima kasih. Walaikumsalam!”
“Walaikummusalam!” jawab Labai Nagari Kito.
Kapalo Mudo Nagari Siyam dan pengiringnya pun pergi. Ajo Uwan menarik tangan gue memasuki cafe Balai Basuo Nagari Kito. Lalu kami sampai dinihari main domino. Lawan kami kembali pasangan Ajo Karanggo dan Ajo Fuddin. Keduanya kembali kalah delapan kosong. (Bersambung)
Leave a Reply