(11)
Hep ta Hep ti …. Hep ta Hep ti
Sebagaimana malam kemarin, besoknya setelah shalat Isya, berzikir dan berdoa, gue ke Balai Basuo Nagari Kito. Tak cukup lima menit kemudian gue tiba di serambinya. Dari pintu masuk cafe, tampak Ajo Uwan, Ajo Gindo dan Ajo Sutan sudah duduk bersila di belakang meja lesehan di mana kami biasa bermain domino. Mereka tampaknya sedang berdiskusi. Gue melangkah pelan-pelan ke arah mereka.
“Saya tidak yakin Ajo Manih membunuh Bundo Kanduang dan ketiga
Parewa Koa,” kata Ajo Uwan.
“Dasarnya apa?” tanya Ajo Gindo.
“Ajo Manih kuat iman dan takwanya. Ia rajin ke surau,” kata Ajo Uwan.
“Dia kan manusia biasa seperti kita ini. Apa tak mungkin dia kilaf karena
satereh?” tukas Ajo Gindo.
“Ajo Manih satereh?” tanya Ajo Uwan.
“Ya!”
“Apa yang membuat Ajo Manih satereh?”
“Tan, tolong jelaskan,” kata Ajo Gindo.
“Baik,” kata Ajo Sutan sambil melirik gue lalu menggerakkan telapak tangan kanannya ke bawah dengan mata menembak ke lantai.
“Assalamualaikum,” kata gue.
“Walaikumsalam,” jawab mereka serentak.
Gue melangkah menuju tempat duduk mereka. Setelah dekat, gue salami mereka satu-persatu. Selesai bersalaman, gue duduk bersila di lantai menghadap ke arah Ajo Uwan. Gue keluarkan notes dan pena dari dalam tas kecil yang tersandang di dada. Ajo Sutan menarik napas beberapa jenak. Kami memandangnya dengan diam. Sejenak sunyi.
“Masalahnya sama dengan si Jangguik …” kata Ajo Sutan tertahan.
Kami spontan melirik Ajo Uwan.
“Apa masalahnya?” tanya Ajo Uwan.
“Dia punya sorang adik gadih gadang lah patuik balaki!”
“O itu. Lalu bagaimana?” tanya Ajo Uwan lagi.
“Calon ampulai adiknya sudah ada, tetapi pihak mamak calon ampulai
adiknya meminta uang hilang.”
“Di zaman now nikah-kawin pakai uang hilang sudah lumrah, apalagi di negeri kita, di lingkup budaya daerah Piaman Laweh, sudah jadi adat nan teradatkan!”
“Kalau tidak pakai uang hilang, gimana Jo Wan?” sela gue.
“Berarti digratiskan?”
“Ya!”
“Ke mana muka mamak dari pihak mempelai lelaki mau disurukkan nantinya setelah nikah-kawin jadi?”
“Disurukkan saja ke dalam kain sarung ketika berjalan, ataupun ketika duduk minum kopi di palanta warung kopi, atau di cafe Balai Basuo Nagari Kito ini!” tukas gue.
“Kalau itu tak jadi masalah amat, bebannya bisa ditanggung sendiri!”
“Berarti ada beban masalah yang tidak dapat ditanggung sendiri?” tanya
gue.
“Ya!”
“Apa itu?”
“Dipergunjingkan orang sekampung!”
“Kok gitu?”
“Ibarat harilah merembang petang, pedagang ikan membanting harganya!”
“Maaf, gue lahir dan besar di rantau. Tolong Ajo Uwan jelaskan apa maksudnya?”
“Menjual murah saja ikannya!”
“O banting harga?”
“Bukan! Keluarga calon ampulai lelaki tidak menerima uang jamputan atau uang hilang, hanya uang dapua!”
“Maaf, tolong Ajo Uwan jelaskan, apa beda ketiga uang itu?”
“Gindo!”
“Ya!”
“Saya bukan urang Piaman Laweh, tolong Gindo jelaskan!”
“Tunggu Jo Wan!” sela gue.
“Apa?” tanya Ajo Uwan.
“Ajo Uwan urang mana?”
“Urang darek!”
“Kenapa Ajo Uwan bermukim di Nagari Kito ini?”
“Ajo Uwan urang sumando di Nagari Kito ini.”
“O istri Ajo Uwan perempuan Nagari Kito.”
“Ya!”
“Apa di negeri asal Jo Wan dikenal juga uang jeputan, uang hilang, atau uang dapua?”
“Tidak! Makanya Ajo Uwan minta tolong Jo Gindo menjelaskannya.”
“O begitu.”
“Gindo, tolong jelaskan.” (Bersambung)
Leave a Reply