Apresiasi dan Penghormatan Kepada Bapak Perfilman dan Pahlawan Nasional, Jalan Haji Usmar Ismail Akan Diresmikan di Bukittinggi

Potret Haji Usmar Ismail.
Potret Haji Usmar Ismail.

Bukittinggi, Editor.- Jalan Haji Usmar Ismail akan diresmikan pada salah satu ruas jalan di pusat Kota Bukittinggi, Sumatera Barat, Selasa (29/5/2025).

Pemberian nama jalan ini merupakan bentuk apresiasi dan penghormatan kepada-Bapak Perfilman dan Pahlawan Nasional kelahiran Bukittinggi tersebut.

Jalan Haji Usmar Ismail yang akan diresmikan berada di Kawasan pusat kota Bukittinggi. Masyarakat bisa mengakses jalan yang dapat ditempuh denganjalan kaki dari Jam Gadang

Peresmian jalan Haji Usmar Ismail itu,akan dilakukan oleh Menteri Kebudayaan Dr. H.Fadli Zon, S.S.M.Sc bersama Wako Bukittinggi Ramlan didampingi Wawako Ibnu Asis, Forkopimda dan sejumlah undangan lainnya, dengan serangkaian pertunjukan budaya Minangkabau.

Pemberian nama Jalan Haji Usmar Ismail ini diusulkan oleh sutradara film Indonesia, Arief Malinmudo melalui surat resmi pengusulan nama jalan kepada Pemerintah Kota Bukittinggi pada tanggal 7 maret 2025. Inisiatif itu disambut baik oleh Walikota Bukittinggi H. M Ramlan Nurmatias dengan melakukan serangkaian proses administratif dan kajian dilakukan oleh Satuan Kerja Perangkat Daerah mulai dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Dinas Perumahan dan Kawasan Pemukiman, Dinas Pekerjaan Umum, Dinas Perhubungan, Bagian Tata Pemerintahan, Dinas terkait lainnya serta tokoh adat dan ulama serta dipertegas dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Bukittinggi.

Setelah dilakukan proses,baru ditetapkan melalui Surat Keputusan Walikota Bukittinggi nomor 188.45.68-2025 tanggal 18 Maret 2025.

Menurut Walikota Bukittinggi M Ramlan Nurmatias, sosok Usmar Ismail patut menjadi teladan bagi generasi muda Bukittinggi.

“Bagi kami pribadi dan masyarakat kota Bukittinggi, sosok Usmar ismail dengan latar belakang dari keluarga terdidik dan memiliki ragam talenta pada diri beliau, patut menjadi teladan bagi generasi muda Bukittinggi, ini sejalan dengan misi pengembangan sumber daya manusia Bukittinggi yang berdaya saing global, berakhlak, dan berbudaya,”ujar Ramlan.

Mewakili keluarga, Heidy Hermia Ismail, anak Usmar Ismail mengungkapkan, “Peresmian nama jalan ini adalah peristiwa yang sangat berharga bagi keluarga besar Usmar Ismail. Apalagi Kota Bukittinggi merupakan Kota pertama di Indonesia yang meresmikan nama Jalan Haji Usmar Ismail dengan etika yang santun serta lewat surat persetujuan keluarga. Kami sangat menghargai itu,” ungkap Heidy.

Sementara itu, sutradara Riri Riza selaku kurator pameran 100 Tahun Usmar Ismail di Bukittinggi mengungkapkan, penghormatan terhadap tokoh kebudayaan dan pahlawan nasional Usmar Ismail, melalui pengabadian nama di jalan utama di kota kelahirannya adalah inisiatif yang sangat signifikan artinya bagi kehidupan bangsa kita, katanya.

“Gagasan ini akan mempromosikan nilai kebudayaan dan peran sejarah sang tokoh dalam kehidupan keseharian warga, sehingga Bukittinggi tidak hanya terhubung dengan sejarah nasional Indonesia melalui tokoh-tokoh yang lahir di sini, namun ia juga akan menambah peluang wisata budaya, dan tidak mempengaruhi pemikiran dan karya Usmar Ismail yang hingga hari ini, karya-karya film, teater dan sastra Usmar Ismail mendapat pengakuan luas, baik di Indonesia maupun secara Internasional. Untuk itu kita patut bersyukur dengan rangkaian inisiatif individu, komunitas untuk terus mengenang karyanya dalam beberapa tahun terakhir,” ungkap Riri Riza.

Sementara Arief Malinmudo, yang juga terlahir dan besar di kota Bukittinggi, menambahkan, “Percakapan tentang idealisme Usmar Ismail tidak akan pernah habis untuk dikupas. Ke depan kita semua berharap di kota Bukittinggi berdiri sebuah Museum Film Usmar Ismail yang dapat menjadi pusat studi literasi bagi para generasi selanjutnya baik dari kalangan pembuat film, mahasiswa, kajian budaya maupun seni untuk dapat melihat lebih dalam jendela pemikiran pahlawan nasional, Usmar Ismail,” ujarnya.

Tentang Usmar Ismail

Usmar Ismail lahir di Bukittinggi, 20 Maret 1921 dari pasangan H. Ismail Dt Mangguang dan Ibunda Fatimah Zahra. Usmar Ismail memulai pendidikan di Surau, kemudian melanjutkan pendidikan dasar di HIS Batusangkar dan pendidikan menengah di MULO Padang. Untuk pendidikan tinggi, Usmar Ismail melanjutkan ke AMS jurusan Kebudayaan Timur di Yogyakarta dan melanjutkan studi setelah rilis film pertama Darah dan Doa ke Universitas California Los Angeles di Amerika Serikat lewat program beasiswa.

Usmar Ismail telah melahirkan berbagai karya antara lain Lewat Jam Malam, Tiga Dara, Harimau Tjampa, Enam Jam di Jogja, Tamu Agung. Film pertama yang disutradarai Usmar Ismail, Darah dan Doa (1950), merupakan film nasional pertama dan menjadi tonggak sejarah perfilman tanah air. Film Darah dan Doa mulai diproduksi pada 30 Maret 1950. Yang kemudian ditetapkan dan dirayakan oleh insan perfilman tanah air sebagai Hari Film Nasional dan Usmar Ismail ditetapkan sebagai pahlawan nasional 10 November 2021.

Sejak tahun 2021 tepat peringatan 100 Tahun kelahiran Usmar Ismail, telah banyak inisiatif yang membawa masyarakat kota maupun masyarakat perfilman Indonesia mengenal lebih dekat pemikiran Usmar Ismail mulai dari Pameran 100 Tahun Usmar Ismail (2021) dan Peringatan Hari Film Nasional (2024) bertajuk “Putar Film Usmar di Kota Kelahiran”.

Pelaksanaan Pameran 100 Tahun Usmar pada 20-30 Maret 2021 di Bukittinggi, berawal dari perbincangan antara dua sutradara film Indonesia dan seorang arsiparis film, yaitu Riri Riza, Arief Malinmudo, penulis skenario dan sutradara Indonesia kelahiran Bukittinggi serta
Lisa Bona Rahman, seorang aktivis dan arsiparis film yang berdomisili di Jerman.
Tiga tokoh inilah yang menjadi kurator Pameran 100 Tahun Usmar dengan riset yang berlangsung beberapa bulan. Mulai dari proses pengumpulan data, pemilihan sudut pandang, serta proses interview dengan pihak keluarga Usmar Ismail, salah satunya dengan Prof Muhammad Alwi Dahlan yang merupakan. kemenakan kandung Usmar Ismail dan satu-satunya narasumber yang sempat berkarya bersama Usmar Ismail.

Departemen artistik pameran ini dirancang oleh Rangga Maulana Koto, seorang perupa yang pernah terlibat sebagai penata artistik film layar lebar. Kegiatan ini merupakan titik awal peringatan satu abad Usmar Ismail yang dirancang dari Bukittinggi hingga Makassar yang melibatkan komunitas dari tiga regional tersebut yakni Sako Academy (Bukittinggi), Yayasan Cipta Citra (Jakarta), dan Rumata Artspace (Makasar).

Pameran Usmar di Bukittinggi adalah tajuk yang diberikan. Lokasi pameran hybrid, dalam ruangan pada sebuah kedai kopi dan pada ruang publik dalam bentuk mural di Janjang 40 Bukittinggi dan sebuah tikungan jalan di depan museum perjuangan Tri Daya Eka Darma.

Pada tanggal 20 Maret 2021 pameran tersebut dibuka oleh dua orang anak kandung alm Haji Usmar Ismail yakni Neredin Ismail dan Heidy Hermia Ismail didukung oleh Direktorat Perfilman Musik dan Media Kemendikbud. Tujuan dari pameran ini adalah untuk menyampaikan kepingan pemikiran Usmar muda kepada generasi muda yang melihat pameran yang berlangsung hampir satu bulan.

Materi pameran berupa foto, cuplikan naskah sandiwara, puisi, kartu pos serta resensi tiga filmmaker melihat karya usmar yang diwakili oleh Dian Sastro Wardhoyo yang “membaca film Tiga Dara, Riri Riza mengupas film Lewat Djam Malam, dan Arief Malinmudo yang menganalisa film Harimau Tjampa.

Selain pameran, di Bukittinggi juga diadakan Seminar Nasional Se-Abad Usmar Ismail yang dilaksanakan atas kolaborasi Sako Academy dengan Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat. Pameran 100 Tahun Usmar Ismail akhirnya berkeliling pada bulan Oktober 2021 di kota Padang tepat pada 10 November saat Haji Usmar Ismail dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden RI Nomor 109/TK/TH 2021 tanggal 25 Oktober 2021. Sejak saat itu, dalam periode 2022-2023 aset pameran se-abad Usmar Ismail mulai berkeliling dari Padangpanjang hingga ke Medan.

Hari Film Nasional 2024. Upaya memperkenalkan Pemikiran Usmar Ismail di Bukittinggi terus dilakukan sehingga mengetuk intellectual coriusity para mahasiswa antar disiplin ilmu film, sejarah, budaya, sosial yang hadir dalam forum Public Lecture Sako Academy dengan dukungan Direktorat Perfilman Musik dan Media Kemendikbud dengan menghadirkan narasumber Hasril Chaniago, seorang sejarawan dan penulis. Heidy Hermia Ismail selalu Founder Usmar Ismail Cinema Society dan Riri Riza yang mengkaji “Aktualitas Karya Usmar Ismail dalam Sinema Global dan Periode Transisi Politik serta Kebudayaan”.

Peringatan Hari Film Nasional dengan tajuk “Putar Film Usmar di Kota Kelahiran” juga menayangkan film Djendral Kantjil (1958), sebuah film anak anak yang merupakan pengembangan cerpen yang ditulis oleh Prof.Alwi Dahlan (Kemenakan Kandung Usmar. Ismail) semasa masih duduk di Sekolah Raja (sekarang SMA-2) Bukittinggi Pada bulan Ramadhan di kala itu, para peserta juga diajak melakukan lawatan sejarah ke lokasi objek pameran seabad usmar di Janjang 40 Bukittinggi yang masih terjaga sampai hari ini, serta ke SMA 2 Bukittinggi sebagai tapak sejarah bahwa Ismail Datuak Mangguang, ayahanda dari Usmar pernah mengajar bahasa melayu di Kweek School tersebut, bersamaan dengan Usmar Ismail lahir di Bukittinggi.

Serangkain program tersebut juga menyentuh hati Fadia Ayesha Ismail, anak kelima Usmar Ismail yang turut hadir mewakili Usmar Ismail Cinema Society.** widya

Previous Image
Next Image

info heading

info content

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*